MEDIAHALUOLEO.WEB.ID, TASIKMALAYA – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai ketahanan ekonomi Jawa Barat menjadi salah satu bukti bahwa daerah dapat tetap tumbuh kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu perlambatan perdagangan internasional, konflik geopolitik di berbagai kawasan, fluktuasi harga komoditas, hingga tekanan terhadap rantai pasok dunia. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada tahun 2025 bahkan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sekitar 5,11 persen sepanjang tahun dan 5,39 persen pada triwulan IV-2025. Sementara tingkat inflasi Jawa Barat tetap terjaga pada level 2,63 persen.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Jawa Barat memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan berbagai daerah lain dalam menghadapi perlambatan ekonomi global. Kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, logistik, konstruksi, serta investasi menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan tersebut.
“Capaian ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Jawa Barat sangat kuat. Ketika dunia menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik, perlambatan ekonomi sejumlah negara maju, hingga tekanan perdagangan global, Perekonomian Jawa Barat tetap mampu tumbuh di atas rata-rata nasional dengan inflasi yang terkendali. Ini merupakan indikator penting bahwa struktur ekonomi daerah semakin kuat dan kokoh,” ujar Bamsoet di Liwet Asep Stroberi usai mengunjungi Kabupaten Nagrek dan Tasikmalaya, Sabtu (20/6/26).
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, salah satu indikator penting yang memperlihatkan kualitas pertumbuhan ekonomi Jawa Barat adalah keberhasilan menjaga inflasi. Pada Desember 2025, inflasi tahunan Jawa Barat tercatat sebesar 2,63 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen. Stabilitas harga ini sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat dan kepastian usaha.
“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan sulit memberikan manfaat maksimal apabila inflasi tidak terkendali. Karena itu, keberhasilan Jawa Barat menjaga inflasi pada kisaran 2,63 persen merupakan pencapaian yang sangat penting karena menjaga daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan investor,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menilai, posisi Jawa Barat sebagai pusat industri manufaktur nasional menjadi faktor utama yang menopang ketahanan ekonomi daerah. Berbagai kawasan industri di Karawang, Bekasi, Purwakarta, Subang hingga kawasan Rebana terus menarik investasi baru, khususnya pada sektor otomotif, kendaraan listrik, elektronik, logistik, dan industri berbasis teknologi. Arus investasi tersebut menghasilkan efek berganda yang memperkuat aktivitas ekonomi, memperluas kesempatan kerja, sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
“Keunggulan Jawa Barat terletak pada perpaduan antara basis industri yang kuat, infrastruktur yang semakin lengkap, serta kedekatan dengan pusat pasar nasional. Faktor-faktor ini membuat Jawa Barat menjadi daya tarik investasi yang sangat kompetitif di tingkat regional maupun global,” urai Bamsoet.
Ketua Umum ARDIN Indonesia dan Wakil Ketua Pemuda Pancasila ini mengingatkan, tantangan ke depan tetap tidak ringan. Perlambatan ekonomi global, kebijakan proteksionisme perdagangan, disrupsi teknologi, hingga persaingan investasi antar negara akan terus menjadi faktor yang mempengaruhi kinerja ekonomi daerah. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan infrastruktur logistik, percepatan hilirisasi industri, serta pengembangan ekonomi berbasis inovasi harus menjadi prioritas pembangunan Jawa Barat dalam beberapa tahun mendatang.
“Ketahanan ekonomi tidak cukup diukur dari angka pertumbuhan yang tinggi. Yang lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan tersebut mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat daya beli masyarakat, mengurangi ketimpangan, dan meningkatkan kesejahteraan secara merata,” pungkas Bamsoet. (*)

