Jurnalism dan Godaan Panggung Penghakiman

Jurnalism dan Godaan Panggung Penghakiman

Jurnalism dan Godaan Panggung Penghakiman
Jurnalism dan Godaan Panggung Penghakiman



 

 

 

MEDIAHALUOLEO.WEB.ID, Oleh: Supriyanto Martosuwito - Sebagai jurnalis pensiunan, saya melihat pergeseran yang mengganggu: profesi yang dulu rendah hati dalam mencari kebenaran kini kerap berubah menjadi panggung penghakiman.

Wartawan tidak lagi sekadar bertanya. Ia merasa berhak mengadili. Menuding. Memaksa. 

Di titik ini, saya kembali pada pertanyaan lama:  Apakah ini membantu publik memahami?
Apakah ini penting? Apakah ini berdampak?

Pertanyaan itu relevan ketika kita menyaksikan wawancara yang makin konfrontatif, bahkan agresif. 

Sosok seperti Najwa Shihab dipuji karena keberaniannya. Namun keberanian dalam jurnalisme bukan soal menekan narasumber.

Keberanian sejati adalah menahan diri — tidak tergoda merasa paling tahu, apalagi paling benar. Membawa dan memaksakan kebenarannya sendiri. 

Dalam "The Elements of Journalism", Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menegaskan: jurnalisme adalah disiplin verifikasi, bukan panggung opini. Wartawan mencari kebenaran, bukan mengklaim telah memilikinya.

Kini garis itu kian kabur.

Jurnalis bergeser dari penanya menjadi “investigator moral” yang gemar menuding. Gaya konfrontatif ala jurnalis perang Italia, Oriana Fallaci (1929-2006) memang memikat. Tajam, dramatis, menggugah emosi. Namun tanpa kedalaman, ia berubah menjadi pertunjukan.

Wawancara bukan lagi proses menggali, melainkan panggung - untuk memuaskan penonton.

Pertanyaan disusun bukan untuk menjernihkan, tetapi untuk menjebak. 

Narasumber diposisikan sebagai objek yang harus dipojokkan — bahkan dipermalukan.

Apakah ini penting? Belum tentu.
Apakah ini berdampak? Mungkin—tapi sebatas sensasi. Apakah ini membantu memahami? Di sinilah kita patut ragu.

Masalah lain muncul: narsisme profesi. Wartawan ingin menjadi pusat cerita. Dia bernafsu jadi tokohnya. 

Filsuf dan intelektual publik Pierre Bourdieu pernah mengingatkan bahwa televisi telah mendorong jurnalis menjadi aktor utama, bukan fasilitator dialog.

Akibatnya, publik tidak lagi fokus pada substansi, tetapi pada performa. Bukan apa yang dikatakan narasumber, melainkan bagaimana pewawancara menekan — misalnya saat interview  Presiden Prabowo Subianto, baru baru ini. 

Ironisnya, ini terjadi ketika ruang kebebasan media justru semakin terbuka. Kekuasaan yang tidak lagi represif memberi ruang bertanya.
Namun ruang ini sering disalahartikan sebagai lisensi untuk bertindak semaunya.

Dalam etika Society of Professional Journalists, ada prinsip yang kerap dilupakan: "minimize harm". Mencari kebenaran tidak boleh merendahkan martabat narasumber.  Apalagi sengaja memancing efek sensasi di balik upaya  mengkofirmasi dan mengklarifikasi. 

Jurnalisme bukan interogasi. Ia percakapan untuk membuka wawasan.

Saya tidak menolak wawancara keras. Dalam situasi tertentu, ia perlu — ketika narasumber menghindar atau publik butuh kejelasan.

Namun tekanan tanpa tujuan hanya menjadi kebisingan. Ia mungkin memuaskan ego penanya, tetapi tidak memperkaya pemahaman.

Di ujungnya, pertanyaannya sederhana: apakah kita masih setia pada esensi jurnalisme?

Atau kita telah berubah menjadi aktor dalam drama yang kita ciptakan sendiri?

Jurnalisme yang kuat bukan yang paling lantang, melainkan yang paling jernih. Bukan yang menekan, melainkan yang membuka.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk ini, yang kita butuhkan bukan keberanian untuk menyerang—melainkan kerendahan hati untuk mendengar. (Syarif Apd)

NEXT PAGES:


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama