MUNA – Tersembunyi di balik perbukitan dan kawasan pemukiman Desa Pola, Kecamatan Pasir Putih Kabupaten Muna Wilayah Muna Timur, berdiri sebuah situs bersejarah yang sarat misteri, Benteng Moghane Balano. Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung harus melewati jalur menantang dengan kontur pegunungan, seakan menjadi gerbang alami menuju masa lalu yang belum sepenuhnya terungkap.
Benteng ini terletak di Perumahan-Wangguali, telah lama dikenal oleh masyarakat setempat, terutama generasi tua yang dahulu kerap melintasi kawasan tersebut saat mencari rotan. Mereka menyebut wilayah itu sebagai tempat yang penuh kisah mistis dan kejadian tak biasa.
Secara fisik, Benteng Moghane Balano tersusun dari batu-batu besar yang diperkirakan memiliki berat hingga ratusan kilogram. Struktur bangunannya tampak kokoh dan strategis, bahkan disebut-sebut memiliki kemiripan dengan benteng-benteng lain di wilayah Muna dan Buton. Letaknya yang berada di ketinggian memungkinkan pandangan luas hingga ke pesisir, menjadikannya titik pengawasan yang ideal pada masanya.
Menurut cerita turun-temurun, benteng ini dibangun pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Ada pula dugaan bahwa lokasi tersebut pernah menjadi titik persinggahan militer, bahkan disebut-sebut terkait aktivitas helikopter tempur pada masa konflik. Namun, semua itu masih menjadi tanda tanya besar yang belum terjawab secara ilmiah.
Salah satu kisah yang paling menarik perhatian adalah keberadaan meriam atau “badhili” yang konon berada di sekitar benteng. Meriam tersebut dipercaya pernah terpasang di dekat pohon besar, mengarah ke laut untuk mengantisipasi serangan musuh dari kejauhan. Sebagian warga mengaku pernah melihatnya, namun ada pula cerita bahwa meriam itu “menghilang” secara gaib muncul hanya bagi orang-orang tertentu.
Cerita lain menyebutkan bahwa lokasi meriam pernah ditandai oleh warga tua di antara dua pohon beringin besar. Dari titik tersebut, terlihat jelas bentangan wilayah antara Muna dan Buton, memperkuat dugaan bahwa benteng ini memiliki fungsi pertahanan yang penting.
Di balik keindahannya, Benteng Moghane Balano juga menyimpan teka-teki besar, siapa sebenarnya yang membangunnya, dan bagaimana teknik konstruksi yang digunakan? Mengingat pada masa itu belum dikenal teknologi semen modern, muncul spekulasi bahwa pembangunannya melibatkan kerja paksa seperti sistem romusha, atau bahkan dikaitkan dengan kisah-kisah legenda dan kekuatan di luar nalar manusia.
Perbandingan pun sering muncul dengan situs besar seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan, yang hingga kini masih menyisakan kekaguman atas teknik pembangunannya di masa lampau.
Sebagai warisan sejarah yang berharga, Benteng Moghane Balano memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan. Dengan dukungan pemerintah daerah dan kerja sama dengan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, situs ini dapat dijadikan ikon baru Kabupaten Muna, khususnya di wilayah Muna Timur.
Jika dikelola secara serius mulai dari pembukaan akses jalan, penyediaan fasilitas, hingga promosi wisata benteng ini berpeluang menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Bahkan, bukan tidak mungkin Benteng Moghane Balano dapat mengikuti jejak Benteng Keraton Buton yang telah dikenal luas dan mendapat pengakuan dunia.
Lebih dari sekadar situs sejarah, Benteng Moghane Balano adalah perpaduan antara misteri, budaya, dan potensi ekonomi. Kini, tinggal bagaimana perhatian dan langkah nyata diambil untuk mengangkatnya dari ketersembunyian menuju panggung pariwisata yang lebih luas.
Benteng Moghane Balano tidak hanya menyimpan jejak sejarah dan kisah misteri, tetapi juga menghadirkan sebuah panggilan bagi generasi muda menjaga, merawat, dan mengangkatnya menjadi ikon pariwisata daerah.
Benteng yang berdiri kokoh dengan susunan batu besar ini bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah identitas, warisan, sekaligus peluang masa depan. Namun, tanpa peran aktif generasi muda, keberadaannya bisa saja terlupakan, tertutup oleh waktu dan minimnya perhatian.
Kini, tantangan itu ada di tangan anak-anak muda Muna Timur. Mereka dituntut untuk lebih peduli dan berani mengambil langkah nyata mulai dari mengenal sejarah lokal, mendokumentasikan cerita rakyat, hingga memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan Benteng Moghane Balano ke dunia luar.
Di era digital, promosi tidak lagi terbatas pada pemerintah. Generasi muda bisa menjadi “duta wisata” dengan cara kreatif, membuat konten video, fotografi, hingga cerita menarik yang mengangkat sisi unik benteng ini baik dari segi sejarah, panorama, maupun kisah mistis yang menyertainya.
Belajar dari keberhasilan pengelolaan situs seperti Benteng Keraton Buton, yang kini dikenal luas hingga mancanegara, Benteng Moghane Balano juga memiliki peluang yang sama untuk berkembang. Bahkan, dengan sentuhan inovasi generasi muda, bukan tidak mungkin situs ini bisa menjadi destinasi unggulan di Sulawesi Tenggara.
Peran generasi muda juga penting dalam mendorong pemerintah daerah agar lebih serius membuka akses menuju lokasi, menyediakan fasilitas pendukung, serta menggandeng Kementerian Pariwisata Republik Indonesia untuk pengembangan yang lebih luas.
Lebih dari itu, menjaga kelestarian benteng juga menjadi bagian dari tanggung jawab bersama. Generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam melindungi situs ini dari kerusakan, vandalisme, maupun eksploitasi yang tidak bertanggung jawab.
Benteng Moghane Balano bukan hanya cerita masa lalu, tetapi peluang masa depan. Jika generasi muda mampu bergerak bersama, bukan tidak mungkin suatu hari nanti benteng ini akan dikenal sebagai ikon pariwisata Muna Timur, bahkan Indonesia.
Inilah saatnya generasi muda bangkit mengubah misteri menjadi inspirasi, dan menjadikan Benteng Moghane Balano sebagai kebanggaan yang mendunia.(Jilid 5)
Penulis: Dr. La Ismeid, S.Pd., M.Pd, (Anak Desa Di Pelosok Muna Timur)
